Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok


Perdagangan Karbon Tak Adil

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN
Masyarakat di Desa Guguk, Sungai Manau, Merangin, Jambi, masih selalu menjaga dan mengelola hutan adat mereka seluas 690 hektar. Dari hasil penghitungan, cadangan karbon yang dihasilkan desa ini mencapai 261 ton atau Rp 19 miliar per tahun.

Senin, 14 Desember 2009 | 06:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Melalui kegiatan Global Day of Action-International Demonstrations on Climate Change, yakni sebuah aksi demonstrasi perubahan iklim secara global, Sabtu (12/12) di berbagai negara di dunia, ditekankan agar reduksi emisi tidak dialihkan menjadi mekanisme perdagangan karbon. Perdagangan karbon dengan ”pembeli” negara maju dan ”penjual” negara berkembang itu merupakan mekanisme tidak adil.

”Perdagangan karbon dari negara-negara berkembang yang diklaim menjadi sebuah upaya penurunan emisi oleh negara maju itu berarti tetap membiarkan emisi terus berlangsung dari kegiatan industri di negara-negara maju. Ini suatu bentuk pengalihan reduksi emisi yang harus ditentang,” kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Berry Nahdian Forqan di Jakarta.

Bersama aktivis lingkungan lainnya, Walhi mengarahkan tuntutan melalui Global Day of Action ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. AS, dengan total emisi 36,1 persen di dunia, hingga saat ini enggan menyepakati target penurunan emisi sesuai dengan Protokol Kyoto. Ini menjadi preseden buruk bagi negara lain.

Kesepakatan global yang dituangkan dalam Protokol Kyoto, menurut Berry, mencapai target menurunkan emisi 24-25 persen dari level tahun 1990 untuk pencapaian tahun 2020, khusus bagi negara-negara industri atau Annex-1. Berdasarkan pertimbangan dan analisis ilmiah, jika target penurunan emisi tersebut tidak ditempuh, diperkirakan kenaikan suhu global mencapai 2 derajat celsius dalam 100 tahun terakhir.

”Kenaikan suhu 2 derajat celsius berdampak pada perubahan iklim dan bencana yang lebih parah akan dihadapi negara-negara berkembang, bukan negara- negara maju. Negara maju sekarang lebih siap menghadapi bencana atas perubahan iklim,” kata Berry.

Lahan gambut

Melalui surat elektronik pada Sabtu pekan lalu, Ketua Kelompok Kerja Alih Guna Lahan dan Kehutanan pada Dewan Nasional Perubahan Iklim Doddy Sukadri dari Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen, Denmark, menyatakan, Indonesia menekankan pentingnya mengurangi emisi melalui upaya mempertahankan lahan gambut.

Mantan Direktur Eksekutif Walhi Chalid Muhammad mengatakan, dari sisi mempertahankan kehutanan maupun lahan gambut, Indonesia dihadapkan pada ironi perluasan lahan perkebunan sawit di sejumlah daerah yang disetujui pemerintah. ”Perluasan sawit kian mendesak keberadaan hutan-hutan heterogen yang menyimpan keanekaragaman hayati,” kata Chalid. (NAW)

Editor: jimbon

Sumber : Kompas Cetak


Indonesia Pemberi Kontribusi Ekologi Bumi

Jumat, 11 Desember 2009 18:23 WIB |
Makassar (ANTARA News) – Indonesia merupakan salah satu negara yang memberikan kontribusi ekologi yang cukup bagi bumi dan masih lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

“Kami kaget karena ternyata pandangan para peserta terhadap kondisi lingkungan Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lainnya,” kata Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, melalui siaran pers dari Kopenhagen, Denmark, kepada wartawan di Makassar, Sumatra Selatan, Jumat.

Ilham Arief menjadi salah seorang peserta KTT ke-15 Perubahan Iklim (COP) Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen.

Wali Kota bersama rombongan LSM Internasional Enlightening Indonesia mengatakan, pertemuan yang diikutinya membahas mengenai “Limits Go Growth” dan diskusi itu membicarakan tentang “Ecologycal Footprint” yang merupakan suatu alat ukur dan kesepakatan yang dilakukan oleh beberapa negara.

Mereka menginginkan adanya keseimbangan antara ecologi dengan konsumsi masyarakat untuk menjaga kehidupan mahluk hidup di muka bumi.

Pertemuan yang diikuti oleh rombongan Wali Kota Makassar terbagi dalam dua kegiatan yaitu Klimaforum yang diikuti oleh Wali Kota Makassar di DGI-BYEN yang lebih banyak mendiskusikan mengenai tindakan.

Sementara rombongan Delegasi RI (Delri) yang diikuti oleh Rachmat Witoelar berada di tempat berbeda yakni Bella Centre.

Kegiatan yang diikuti oleh Delri adalah pertemuan tingkat tinggi yang membahas tentang kesepakatan yang akan diambil oleh para pemimpin negara.

“Kami di Denmark terbagi dalam dua tim, ada yang mengikuti kegiatan teknis dan ada juga pertemuan tingkat tinggi yang membahas tentang kesepakatan yang akan diambil oleh para pemimpin negara,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi iklim yang ada di Indonesia sudah cukup parah, tetapi pada pertemuan Klimatologi yang diikutinya berkata lain dan berkesimpulan jika potensi alam yang dimiliki Indonesia, khususnya Makassar merupakan aset ekologi untuk umat manusia.

Di samping itu juga, Wali Kota mengaku jika kesimpulan itu menjadi tantangan, sekaligus peluang bagi daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa harus menciptakan kerusakan lingkungan.

“Kami pikir Makassar bisa menjadi pionir dan penggerak maupun inspirasi pada tingkat regional, maupun nasional, sehingga secara strategis dapat membantu Makassar Go Internasional dalam segala sektor yang digerakkan oleh kegiatan investasi hijau,” terangnya.

Kehadirannya di forum Internasional tersebut, lanjut Wali Kota, banyak memberikan inspirasi ke depan untuk lebih fokus terhadap isu hijau yang tentunya turut membantu mengangkat tingkat pertumbuhan ekonomi.

Sehingga dapat mensejahterakan masyarakat, sekaligus menciptakan Makassar sebagai “comfortable living room” yang tentunya akan menjadi sebuah simbol baru untuk kehidupan yang nyaman dan sejahtera bagi masyarakat dunia.
(*)

http://www.antaranews.com/berita/1260530597/indonesia-pemberi-kontribusi-ekologi-bumi


ASEAN Satukan Suara Hadapi Perubahan Iklim

102129pMinggu, 25 Oktober 2009 | 11:42 WIB

HUA HIN, KOMPAS.com – Kepala negara maupun kepala pemerintahan negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) menyatukan suara terkait isu perubahan iklim. Dirjen ASEAN Departemen Luar Negeri Djauhari Oratmangun yang ditemui di sela-sela rangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-15 di Hua Hin, Thailand, Sabtu (24/10) malam mengatakan kesatuan sikap para pemimpin ASEAN ini telah dituangkan dalam “Pernyataan Bersama”.

Dalam pernyataan bersama tersebut, ASEAN mengimbau pada negara-negara Annex 1 untuk segera menurunkan dengan tajam emisi gas rumah kacanya.  Djauhari menuturkan bahwa dalam permasalahan perubahan iklim ini, negara-negara maju harus ikut dalam upaya menurunkan emisi karbon, demikian pula untuk negara-negara berkembang. Selain itu, ASEAN juga menyerukan pada negara-negara di kawasan untuk menjaga pantai dan lautnya dari kerusakan akibat efek negatif dari perubahan iklim.

Untuk menyukseskan Konferensi Iklim di Kopenhagen, November mendatang, negara-negara ASEAN juga telah berkomitmen lebih mempererat kerja sama antarnegara anggota dan negara mitra. Menurut Djauhari, menindaklanjuti pernyataan bersama ini, Menteri Lingkungan Hidup dari negara-negara anggota ASEAN untuk membahas masalah lingkungan. “Mereka akan bertemu pada Desember tahun ini di Singapura,” katanya.

Selain dibahas dalam pertemuan tingkat kepala negara atau pemerintahan negara-negara ASEAN, masalah perubahan iklim ini juga dibahas dalam pertemuan ASEAN dengan Republik Korea dalam KTT ASEAN ke-15. Dalam pertemuan dengan negara-negara ASEAN tersebut, pemerintah Korea Selatan menyatakan mengalokasikan dana sebesar 100 juta dollar AS untuk mendukung ASEAN menghadapi perubahan iklim. Dana tersebut juga akan digunakan untuk pengelolaan air bersih.

Sementara itu lembaga penggiat lingkungan Greenpeace Asia Tenggara meminta pimpinan ASEAN untuk lebih memperhatikan masalah perubahan iklim. Menurut Manajer Kampanye Greenpeace Asia Tenggara Tara Buakamsri, penduduk ASEAN telah merasakan akibat dari perubahan iklim.

Menurut dia, negara-negara di ASEAN harus berkomitmen untuk menghentikan penggundulan hutan dan melaksanakan pembangunan yang rendah karbon, serta melaksanakan kesepakatan dalam Konferensi Kopenhagen yang akan dilaksanakan di akhir tahun 2009 ini.
WAH

Editor: wah
Sumber : ANT


Dua Anak Harimau Sumatera Langka Lahir Selamat

Minggu, 25 Oktober 2009 | 20:51 WIB

MEDAN, KOMPAS.com – Kebun Binatang Medan, Minggu dini hari dikejutkan dengan lahirnya dua ekor anak Harimau Sumatra berkelamin jantan dan betina, di kebun binatang itu.

Drh Sucitrawan, salah seorang dokter yang merawat harimau Sumatra, tersebut mengatakan, kelahiran dua anak harimau Sumatra itu merupakan kelahiran pertama, selama kebun binatang Medan dipindahkan ke Jalan Bunga Rampe IV Simalingkar B, Medan.

“Sampai saat ini kondisi kedua ekor anak harimau Sumatra tersebut dalam keadaan normal dengan berat badan masing-maisng 1,1 kg. Kami juga terus mengawasi perkembangan kondisi keduanya,” katanya di Medan, Minggu (25/10).

Saat ini pihaknya terus melakukan beberapa langkah perawatan, baik terhadap induk maupun kedua anak harimau yang merupakan hewan dilindungi tersebut.

Sedangkan untuk asupan makanan, pihak manajemen Kebun Binatang Medan akan menambah porsi makanan dan vitamin kepada induk harimau agar sang induk dapat menyusui anaknya dengan lancar.

“Kelahiran kedua anak Harimau itu normal, saat ini kami belum memberi nama kepada kedua anak harimau itu, namun induk anak harimau yang berjenis kelamin laki-laki diberi nama Si Bagus dan betina Si Manis,” katanya.

Rencanya, Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin dan pj Walikota Medan, Rahudman Harahap diharapkan memberi nama kedua anak Harimau tersebut.

Perkembangan kesehatan anak Harimau Sumatra yang belum diberi nama itu, akan dipantau dua orang dokter hewan.

“Hingga tiga bulan ke depan, kami akan terus melakukan perawatan intensif kepada induk anak Harimau Sumatra yang didatangkan dari Kota Tanjung Balai, Sumut itu,” katanya.
BNJ

Editor: bnj
Sumber : ANT


Harimau Sumatera Tinggal 154 Ekor di Aceh

Sabtu, 24 Oktober 2009 | 21:24 WIB

BANDA ACEH, KOMPAS.com-Hasil survei yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, tercatat populasi harimau Sumatera (Phantera Tigris Sumaterae) di kawasan hutan Aceh tinggal 154 ekor.041327p

“Dari survei yang kami lakukan sejak 2007 hingga 2009, populasi harimau Sumatera tinggal 154 ekor,” kata kepala BKSDA Aceh Abubakar di Banda Aceh, Sabtu.

Ia mengatakan di seluruh hutan di Pulau Sumatera saat ini terdapat sekitar 480 ekor harimau, namun populasi terbanyak satwa itu hanya di hutan-hutan di Aceh terutama di kawasan Leuser dan Ulu Masen.

Survei yang dilakukan bersama kalangan LSM tersebut, membentuk sejumlah tim dengan mensurvei 234 kawasan.

Pada setiap kawasan seluas 17 kilometer persegi yang diperkirakan merupakan lintasan harimau tersebut, ditemukan jejak kaki binatang itu maupun ditemukan langsung hewan tersebut.

Menurut dia, populasi hewan yang dilindungi ini semakin menurun akibat berbagai hal di antaranya habitat yang terganggu sehingga makanan utamanya menghilang. Ia mencontohkan di Kabupaten Aceh Selatan, kebun masyarakat banyak yang kotor karena babi yang menjadi hama tanaman turun ke kebun.

“Karena babi yang merupakan salah satu makanan harimau sudah turun ke permukiman penduduk, maka si raja hutan itu juga turun ke kawasan yang berpenduduk,” katanya.

Menurut dia, survei yang dilakukan baru sebatas menghitung populasi harimau Sumatera, sedangkan berdasarkan jenis kelamin belum diketahui jumlahnya, karena membutuhkan waktu yang lama. “Memang cukup berat dan perlu waktu untuk melakukan survei terhadap keberadaan harimau ini,” katanya.

Dia mengatakan tim yang diturunkan juga banyak, karena medannya sulit. Ia mengatakan ke depan akan dilakukan survei untuk menghitung jumlah harimau berdasarkan jenis kelamin, angka kematian maupun kelahiran satwa tersebut.
ONO

Editor: ono
Sumber : ANTARA


Hah, Malaysia Mengklaim Bunga Raflesia Arnoldi?

1415052p

Minggu, 25 Oktober 2009 | 22:13 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com – Klaim Malaysia terhadap bunga Raflesia arnoldi membangkitkan semangat Kelompok Peduli Puspa Langka Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang untuk melestarikan habitat flora langka itu.

“Terus terang kami sakit hati mengetahui dari media bahwa Malaysia juga mengklaim bunga Raflesia,” kata Ketua Kelompok Peduli Puspa Langka Holidin, Minggu (25/10).

Padahal, semangat masyarakat sudah berkurang untuk menjaga setiap bunga yang mekar di kawasan Hutan Lindung dan Cagar Alam Taba Penanjung.

Dengan adanya klaim tersebut, anggota kelompok kembali bersemangat membersihkan kawasan dua bunga Raflesia yang mekar di perbatasan Kota Bengkulu-Kepahiang sejak dua hari terakhir.

“Ada dua yang mekar, posisinya 200 meter dari jalan raya. Sebenarnya kami tidak semangat membuka jalan karena medannya curam, tetapi mengingat klaim Malaysia atas Raflesia, semangat anggota kelompok jadi tinggi,” katanya.

Holidin mengatakan satu bunga sedang mekar sempurna dan diperkirakan masih mekar hingga empat hari ke depan.

Bunga yang mekar tersebut berada di kemiringan 65 derajat dengan diameter 80 cm, dan dapat dinikmati pengunjung hingga 12 hari ke depan sebelum membusuk.

Satu bunga lainnya masih mulai membuka kuncup dan diperkirakan mekar sempurna enam hari lagi. Selain dua bunga tersebut, kelompok ini juga menemukan dua calon bunga sebesar bola kaki, dan lima yang sebesar bola kasti.

Diperkirakan hingga satu bulan ke depan calon bunga itu akan berbunga secara bergantian. “Jadi, pengunjung punya banyak kesempatan untuk melihat bunga ini di habitatnya langsung,” katanya.

Selain tujuh calon bunga tersebut, Holidin yang saat ini sedang membersihkan lokasi bunga dan merintis jalan setapak bagi pengunjung mengatakan enam inang bunga Raflesia juga menunjukkan tanda-tanda calon bunga yang biasa disebut tombol.

Jumlah tombol, belum bisa dipastikan karena pihaknya belum menghitung. “Kelihatannya banyak calon bunga yang akan muncul karena ada enam inang yang kami temukan dengan banyak tombol, atau benjolan calon bunga,” katanya.

Holidin dan timnya telah membuat tanda bagi pengunjung dengan memasang papan di pinggir jalan raya, dan kelompok tersebut juga telah membuka jalan setapak untuk pengunjung yang berniat menikmati flora langka itu.
BNJ

Editor: bnj
Sumber : ANT


Isu Perubahan Iklim Jarang Disampaikan di Sekolah

Perubahan iklim menjadi isu global yang terus bergulir, namun sekolah-sekolah di Indonesia justru belum serius memperkenalkan perubahan iklim dan langkah-langkah yang diperlukan guna mengatasi ancaman ini. Pendidikan perubahan iklim di sekolah-sekolah masih minim, sekalipun dalam muatan lokal pendidikan lingkungan hidup.

Kenyataan pendidikan perubahan iklim di sekolah-sekolah Indonesia yang memperihatinkan terungkap dari hasil studi British Council kepada 2.234 guru dan siswa SD-perguruan tinggi di Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Papua. Hasil penelitian dituangkan dalam laporan bertajuk Mapping Climate Education in Indonesia : Oppurtunities for Development.

Tety Suryati, Koordinator Muatan Lokal Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Jumat (25/9) di Jakarta, mengakui terbatasnya pendidikan perubahan iklim di sekolah. Siswa dan guru memiliki pemahaman yang terbatas soal perubahan iklim.

Pencegahan yang diperlukan sedini mungkin dan bagaimana tiap individu serta komunitas berkontribusi membuat perubahan iklim tidak semakin buruk, belum dipahami siswa dan guru. “Kurikulum pendidikan lingkungan hidup juga masih belum fokus dan memberi porsi untuk pendidikan perubahan iklim yang berdampak buruk untuk Indonesia jika tidak ada kesadaran bersama untuk mengubah gaya hidup yang ramah lingkungan,” ujar Tety yang juga guru di SMAN 12 Jakarta itu.

Nita Irawati Murjani, Project Manager Climate Security British Council, mengatakan pendidikan punya peran penting untuk meningkatkan kesadaran soal penyebab dan dampak perubahan iklim. Sayangnya, sekolah-sekolah belum sepenuhnya menyadari perannya sehingga kesadaran dan persepsi siswa dan guru soal perubahan iklim yang jadi isu global itu masih minim.

Yang menyedihkan, masih banyak responden dari kalangan akademik yang punya persepsi soal perubahan iklim itu sebagai kehendak Tuhan. Kenyataan itu bisa berakibat kita memposisikan diri sebagai bagian yang pasif dari masalah, mengesampingkan kontribusi kita sebagai penyebab masalah, sekaligus menganggap kita tidak berdaya untuk menciptakan solusi dari masalah perubahan iklim, kata Nita.

Mochamad Putrawidjaja, peneliti dari British Council, mengatakan pendidikan perubahan iklim belum jadi perhatian semua sekolah. Hal itu bisa jadi akibat pendidikan perubahan iklim secara resmi belum diakui dalam sistem pendidikan nasional.

Meskipun topik perubahan iklim disampaikan dalam mata pelajaran yang relevan seperti Biologi, Fisika dan Geografi atau muatan loka pendidikan Lingkungan Hidup, topik perubahan iklim minim karena khawatir membebani siswa, kekurangan bahan ajar dan teknik mengajar, kata Putrawidjaja.

Padahal, saat ini perlu kesadaran yang lebih besar dari semua pihak dalam kehidupan sekolah, mulai dari kepala sekolah dan guru untuk memahami isu-isu lingkungan dan perubahan iklim, untuk mengenalkan cara-cara praktis untuk melestarikan lingkungan, seperti mengolah sampah dan menghemat listrik. Generasi muda yang akan menghadapi dampak dari generasi sekarang diharapkan juga bisa berpartisipasi lebih baik.

Tempat yang cocok di sekolah untuk membentuk perubahan perilaku dan menemukan solusi yang baik bagi masalah ini. Jadi hasil penelitian ini selain memotret kenyataan soal pendidikan perubahan iklim yang masih belum baik, juga ada kesempatan bagi semua pihak untuk bekerjasama dalam mengatasi masalah ini, kata Putrawidjaja. (Laporan wartawan KOMPAS Ester Lince Napitupulu)

© 2008 – 2009 KOMPAS.com