Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok


SEJARAH PENDIRIAN

Ir. Suherry Aprianto - Direktur PPLH Bohorok

Ir. Suherry Aprianto - Direktur PPLH Bohorok

Pada bulan April 1994, Pak Michel Gilbert mengunjungi Bukit Lawang. Dalam kapasitasnya sebagai seorang wisatawan, dia sangat tertarik dengan keindahan alam dan keanekaragaman hayati yang ada, terutama kepada Orangutan Sumatera (pongo abelii). Namun dia juga shock melihat banyaknya tamu yang berkunjung, dimana pada hari minggu menurut perkiraannya, ada 30.000 wisatawan lokal. Dia melihat banyaknya sampah yang ditinggalkan oleh wisatawan lokal ini dan tidak ada mengelolaan sampah yang memadai. Melihat kondisi tersebut, dia membayangkan suatu saat pariwisata Bukit Lawang bisa behenti, dikarenakan tempat tersebut tidak menarik lagi. Jumlah tamu yang melebihi daya dukung lingkungannya membuat daerah tujuan wisata ini terus terdegradasi terutama dari sisi lingkungan dan yang kedua dari sisi budaya.

Pak Michel kembali ke Swiss dan melakukan kampanye untuk sebuah proyek di Bukit Lawang, yaitu proyek pengelolaan sampah. Pada saat berkampanye tersebut, dia bertemu dengan Ibu Regina Frey, yang merupakan salah satu pendiri Stasiun Rehabilitasi Orangutan Bohorok sekitar tahun 1973. Ibu Regina juga mempunyai ide untuk mendirikan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) di Sumatera yang sama dengan apa yang telah dia bangun di Jawa Timur, yaitu PPLH Seloliman. Bukit Lawang dengan eks stasiun rehabilitasi orangutan memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan tempat pembelajaran lingkungan, tentang hutan hujan tropis dan yang paling terutama orangutan sumatera.

Pada bulan Januari 1995, Pak Michel dan Ibu Regina berkunjung kembali ke Bukit Lawang dan mengadakan serangkaian pengamatan, diskusi dan membuat proposal untuk sebuah program yang diberi nama Bohorok Sustainable Development Program (BSDP). BSDP akan menjalankan 3 sektor kegiatan yaitu manajemen lingkungan, pendidikan lingkungan dan riset serta pariwisata ramah lingkungan.

BSDP dijalankan dibawah payung Yayasan PanEco yang berkedudukan di Swiss, sebuah lembaga non profit yang didirikan oleh Ibu Regina Frey bersama beberapa teman, pada tahun 1996. Melalui lembaga ini pengumpulan dana dan pertukaran ahli terus dilakukan baik di Swiss maupun di Indonesia.

Salah satu proyek BSDP dalam sektor pendidikan lingkungan adalah mendirikan PPLH di Bukit Lawang. PPLH ini nantinya diharapkan dapat menjalankan serangkian kegiatan penyadaran lingkungan, pendukung kegiatan-kegiatan lingkungan di Bukit Lawang, menjadi contoh dan tempat belajar siapa saja yang datang ke Bukit Lawang, khususnya yang tertarik dengan pendidikan lingkungan.

Beberapa proyek selain kampanye untuk pembangunan PPLH di Bukit Lawang terus dijalankan. Antara lain, penyediaan fasilitas pengelolaan sampah di Bukit Lawang. Ini masuk dalam sektor manajemen lingkungan. Apalagi setelah itu ada partner lokal yang mendukung, yaitu Yayasan Sumatera Lestari (YASRI), kegiatan bejalan terus sampai sampai kerjasama PanEco dengan YASRI berakhir pada tahun 1998.

Proses pendirian PPLH Bohorok dilanjutkan terus pada tahun 1998, dimana terjadi take over atas Bukit Lawang Cottage (BLC) oleh Ibu Regina Frey. BSDP yang terus berjalan di bawah PanEco, tetap menjalankan program dan bekerjasama yang lebih luas dengan Wisma BLC tersebut. Kerjasama ini cukup berhasil, dimana di BLC dapat dilaksanakan manajemen lingkungan yang cukup baik, seperti pengolahan sampah dapur dan kebun menjadi kompos, pengolahan limbah non-organik dan memberikan contoh kepada penginapan lain.

Pada tahun ini juga Ibu Regina bertemu dengan Pak Sofyan Tan, dan bekerjasama untuk membangun PPLH Bohorok, yang sebenarnya merupakan fasilitas pendidikan, namun non-formal. Pak Sofyan sendiri adalah salah satu tokoh pendidikan formal yang cukup terkenal di Sumatera Utara. Secara logika, kerjasama ini sangat tepat, dan dapat berhasil untuk mendirikan PPLH tersebut.

Pada tahun 1999, direncanakan untuk membangun fisik PPLH Bohorok, dan sejak awal tahun itu diadakan workshop tentang eko-arsitektur, dimana masukan-masukan dari workshop tersebut akan dijadikan referensi untuk perencanaan dan pembangunan PPLH Bohorok. Workshop ini diadakan beberapa kali, dimana awalnya dilakukan pada bulan Februari 1999.

Untuk menunjang kegiatan di Bukit Lawang ini, didirikan pula lembaga baru lokal yang diberi nama Yayasan ekosistem Lestari (YEL).  Secara formal lembaga ini disyahkan oleh Notaris pada tanggal 25 Januari 2000. Pak Michel, Ibu Regina dan Pak Sofyan terus bekerja dan merubah secara kelembagaan dari bernama BSDP menjadi PPLH Bohorok pada tahun 2000. Boleh dikatakan pembukaan PPLH Bohorok ini adalah pada tahun 2000. Sejak itu PPLH Bohorok yang berbasis di Wisma BLC dengan memberdayakan bekas staf-staf BSDP, staf Wisma BLC dan staf baru, berada di bawah payung YEL dengan manajemen baru.

PPLH Bohorok sebagai satu unit usaha di bawah YEL, diharapkan dapat menjadi wacana baru di Bukit Lawang untuk menjawab permasalah lingkungan yang ada disana dan mengupayakan kesinambungan pariwisata yang telah ada serta merubah menjadi pariwisata ramah lingkungan (eko-wisata).

Sejak tahun 2000, manajemen baru PPLH Bohorok dikendalikan oleh seorang Direktur yang membawahi divisi fasilitas (Wisma BLC) dan divisi program. Sedangkan divisi program mengelola proyek pendidikan lingkungan dan pengembangan masyarakat (Com-dev). Dalam hal ini Direktur PPLH Bohorok bertanggung jawab kepada Ketua YEL sebagai ketua Badan Pengurus Harian. Ketua YEL bisa juga disebut sebagai Direktur Eksekutif YEL.

Pada tahun 2001, PPLH Bohorok merubah nama Wisma Bukit Lawang Cottage (BLC) menjadi Ecolodge BLC. Hal ini bukan tidak beralasan, karena pengelolaan lingkungan di BLC sudah baik, kemudian lagi didukung dengan fasilitas pengolahan limbah cair seperti bio-filtrasi dan makanan yang sehat. Walaupun belum sempurna dan belum belum memmenuhi semua kriteria ecolodge, nama ecolodge digunakan sampai sekarang. Namun untuk tidak menghilangkan nama awalnya, maka kepada masyarakat luas dan pelanggan, tetap dipakai BLC, atau Ecolodge Bukit Lawang Cottage (EBLC).

Berbagai dinamika terjadi dalam organisasi PPLH Bohorok selama kurun waktu 2000 sampai dengan tahun 2008. Dinamika ini diantaranyan pergantian direktur, direktur yang pertama Pak Taslim digantikan oleh Pak Job Rachmat Purba pada awal tahun 2002. Pak Purba sendiri bertugas disana sampai akhir tahun 2004. Pada Tahun 2005, tugas ini dijalankan oleh Pak Kusnadi dan Pak Matthias Beck, kemudian sampai akhir tahun.

Pada kurun waktu 2003 sampai 2005, dinamika internal cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh terjadinya banjir bandang pada bulan Nopember 2003. Semua penginapan yang ada rusak dan berhenti beroperasi kecuali EBLC.  Setelah itu, staf-staf PPLH bekerja untuk tanggap darurat dan kemanusian disana pada tahun 2004. Program yang disebut Bohorok Recovery Program (BRP) dibangun untuk membantu masyarakat korban banjir bandang Bukit Lawang. Bantuan ini berupa pelatihan handy craft untuk pengerajjin, jembatan gantung, kebutuhan tanggap darurat dan lain-lain.

Pada tahun 2005 sampai 2006, Ecolodge BLC sempat terpisah dari manajemen PPLH Bohorok. EBLC sebagai satu unit usaha bisnis bertanggung jawab langsung kepada Ketua YEL. Sedangkan PPLH Bohorok, berkonsentrasi pada daerah-daerah di luar Bukit Lawang, seperti Desa Timbang Lawan. Pada waktu itu, PPLH Bohorok hampir tidak punya tempat (site).

Pada akhir tahun 2005, YEL membeli satu lahan yang dijadikan demplot pertanian organik. Selama tahun 2005 dan 2006, PPLH Bohorok berbasis pada program pertanian organik (PPO) dengan membangun demplot dan melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Sementara itu, Program BRP diteruskan oleh PPLH Bohorok dengan melakukan pendampingan dan monitoring.

Pada tahun 2006, Pak Suherry atas persetujuan yayasan, mendirikan divisi pendidikan. Divisi pendidikan ini meliputi semua perangkat organisasi yang ada di PPLH Bohorok dan Outreach and Education (OE). Sub divisi OE sendiri melaksanakan pekerja penyadaran dan kampanye untuk keperluan pelestarian orangutan sumatera.

Pada tahun 2007, EBLC, PPO  dan OE disatukan kembali dalam satu wadah PPLH Bohorok. EBLC dan PPO berbasis di Bohorok, sedangkan OE berbasis di Medan adan atau di lapangan yang memerlukan saat itu. OE lebih bersifat mobile, sesuai dengan keperluan di daerah kerjanya yang merupakan sekitar habitat orangutan sumatera. Struktur ini terus berjalan sampai dengan akhir tahun 2008.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: