Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup Bohorok


Arsip Kategori

The following is a list of all entries from the Artikel Lingkungan category.

Indonesia Bukan Negara Emitor tapi Absorber Karbon

http://sains.kompas.com/read/xml/2009/12/02/13434936/indonesia.bukan.negara.emitor.tapi.absorber.karbon


Perdagangan Karbon Tak Adil

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN
Masyarakat di Desa Guguk, Sungai Manau, Merangin, Jambi, masih selalu menjaga dan mengelola hutan adat mereka seluas 690 hektar. Dari hasil penghitungan, cadangan karbon yang dihasilkan desa ini mencapai 261 ton atau Rp 19 miliar per tahun.

Senin, 14 Desember 2009 | 06:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Melalui kegiatan Global Day of Action-International Demonstrations on Climate Change, yakni sebuah aksi demonstrasi perubahan iklim secara global, Sabtu (12/12) di berbagai negara di dunia, ditekankan agar reduksi emisi tidak dialihkan menjadi mekanisme perdagangan karbon. Perdagangan karbon dengan ”pembeli” negara maju dan ”penjual” negara berkembang itu merupakan mekanisme tidak adil.

”Perdagangan karbon dari negara-negara berkembang yang diklaim menjadi sebuah upaya penurunan emisi oleh negara maju itu berarti tetap membiarkan emisi terus berlangsung dari kegiatan industri di negara-negara maju. Ini suatu bentuk pengalihan reduksi emisi yang harus ditentang,” kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Berry Nahdian Forqan di Jakarta.

Bersama aktivis lingkungan lainnya, Walhi mengarahkan tuntutan melalui Global Day of Action ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. AS, dengan total emisi 36,1 persen di dunia, hingga saat ini enggan menyepakati target penurunan emisi sesuai dengan Protokol Kyoto. Ini menjadi preseden buruk bagi negara lain.

Kesepakatan global yang dituangkan dalam Protokol Kyoto, menurut Berry, mencapai target menurunkan emisi 24-25 persen dari level tahun 1990 untuk pencapaian tahun 2020, khusus bagi negara-negara industri atau Annex-1. Berdasarkan pertimbangan dan analisis ilmiah, jika target penurunan emisi tersebut tidak ditempuh, diperkirakan kenaikan suhu global mencapai 2 derajat celsius dalam 100 tahun terakhir.

”Kenaikan suhu 2 derajat celsius berdampak pada perubahan iklim dan bencana yang lebih parah akan dihadapi negara-negara berkembang, bukan negara- negara maju. Negara maju sekarang lebih siap menghadapi bencana atas perubahan iklim,” kata Berry.

Lahan gambut

Melalui surat elektronik pada Sabtu pekan lalu, Ketua Kelompok Kerja Alih Guna Lahan dan Kehutanan pada Dewan Nasional Perubahan Iklim Doddy Sukadri dari Konferensi PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen, Denmark, menyatakan, Indonesia menekankan pentingnya mengurangi emisi melalui upaya mempertahankan lahan gambut.

Mantan Direktur Eksekutif Walhi Chalid Muhammad mengatakan, dari sisi mempertahankan kehutanan maupun lahan gambut, Indonesia dihadapkan pada ironi perluasan lahan perkebunan sawit di sejumlah daerah yang disetujui pemerintah. ”Perluasan sawit kian mendesak keberadaan hutan-hutan heterogen yang menyimpan keanekaragaman hayati,” kata Chalid. (NAW)

Editor: jimbon

Sumber : Kompas Cetak


Duh, Pohon Cengkeh Tertua di Dunia Kondisinya Merana

Jumat, 4 Desember 2009 | 22:35 WIB

TERNATE, KOMPAS.com - Kondisi tanaman cengkih afo di Ternate, Maluku Utara, yang merupakan tanaman cengkih tertua di dunia, kini semakin memprihatinkan karena kurangnya perhatian dari instansi terkait atas keberadaan tanaman tersebut.

“Saya heran, cengkih afo ini dibiarkan tidak terurus, padahal ini memiliki nilai sejarah karena merupakan cengkih tertua di dunia,” kata seorang pemerhati peninggalan sejarah di Ternate, Didin Saleh, Jumat (4/12).

Cengkih yang terletak di Kelurahan Tongole, Kecamatan Ternate Tengah atau sekitar 6 Km dari pusat kota Ternate itu, pada batangnya terlihat ada bekas tebasan parang dari oknum tidak bertanggung jawab.

Cengkeh Afo adalah pohon cengkeh tertua di dunia yang terdapat di kota Ternate. Menurut cerita, pohon cengkeh ini sudah roboh beberapa bulan yang lalu.

Pohon cengkeh ini berumur 416 tahun, Tinggi 36,60 m, Garis Tengah 198 m dan Lingkaran 4,26 m. Cengkeh Afo ini mampu menghasilkan sekitar 400 kg Cengkeh tiap tahunnya.

Menurut Didin yang juga seorang sarjana pertanian itu, tebasan pada batang pohon cengkih yang tingginya 36,6 meter tersebut diduga sengaja dilakukan oleh oknum tertentu untuk mengambil bagian batang pohon demi kepentingan bisnis.

Sesuai informasi yang ada, kulit dan bagian batang pohon yang ditebas dari pohon cengkih afo tersebut dijual kepada oknum peniliti dari negara untuk kembangkan menjadi bahan kultur jaringan.

“Kalau Pemkot Ternate dan pihak terkait lainnya tidak segera melakukan langkah-langkah untuk mengamankan keberadaan cengkih afo tersebut, saya khawatir dalam waktu tidak lama cengkih itu akan mati,” katanya.

Jalan setapak dari jalan raya ke lokasi cengkih yang berusia sekitar 416 tahun itu, juga mulai rusak dan tidak ada tanda-tanda dari pemda setempat untuk memperbaikinya.

Pihak Pemkot Ternate belum dapat dikonfirmasi terkait kondisi cengkih afo tersebut, namun sebelumnya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate, Arifin Umasangaji mengatakan, cengkih afo itu telah menjadi salah satu cagar budaya dan objek wisata di Ternate.

Oleh karena itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Ternate telah membangun berbagai fasilitas di sekitar lokasi cengkih afo, seperti membangun jalan setapak sepanjang 2,5 Km untuk memudahkan pengunjung mencapai pohon itu.

Editor: bnj

Sumber : ANT


Aktivitas Matahari Juga Pengaruhi Perubahan Iklim

Jumat, 11 Desember 2009 | 10:17 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pada 2006 Indonesia dituduh menjadi negara ketiga terbesar pencemar CO di atmosfer sehingga dituding sebagai salah satu penyebab utama perubahan iklim global. Untuk mengetahui emisi GRK, terutama konsentrasi CO di atmosfer, pada 2006 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional terlibat dalam penelitian.

Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan merintis pembuatan instrumentasi sistem sampling untuk meneliti konsentrasi CO secara horizontal dan vertikal. Uji coba vertikal dilakukan di Bandung, Jawa Barat, dan Watukosek, Jawa Timur, pada 2006.

Penelitian dari Panel Ahli Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) menunjukkan, konsentrasi CO tahun 2004 sebesar 378 ppm dan akan meningkat menjadi 714 ppm.

”Hasil analisis data lapangan menunjukkan, CO tidak berpengaruh signifikan pada pemanasan global. Analisis data menunjukkan, konsentrasi sekitar 400 ppm,” ujar Chunaeni Latief, Msc (61), yang dikukuhkan sebagai profesor riset di bidang optoelektronika dan aplikasi laser.

Untuk melakukan penelitian itu, Chunaeni merancang bangun instrumen pemantau CO. Instrumen terdiri atas sistem ruas atas atmosfer dan sistem ruas Bumi sebagai penerima. Sistem ruas atas atmosfer atau gondola berbasis sensor Vaisala sebagai sensor CO terdiri atas sensor pengukur parameter atmosfer sistem, kontrol, dan pengirim data digital. Sistem ruas Bumi memproses pengukuran di atmosfer.

Uji coba menunjukkan, instrumentasi ini dapat digunakan untuk penelitian horizontal jarak jauh parameter atmosfer lainnya dengan menyempurnakan sensornya dan menggunakan balon udara. Penelitian CO membuka peluang penelitian fenomena konveksi dan fenomena pendinginan di atmosfer atas akibat munculnya lapisan CO.

Matahari berperan

Kecenderungan terjadinya perubahan iklim global dewasa ini tidak hanya diakibatkan oleh aktivitas manusia, tetapi juga dipengaruhi aktivitas siklus Matahari. Dua faktor ini kini berjalan simultan.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan Thomas Djamaluddin dalam acara Pers Tour di Kantor Lapan Bandung, kemarin.

”Data empiris banyak yang menunjukkan, aktivitas Matahari, faktor kosmogenik, punya pengaruh kepada iklim. Mekanismenya masih menjadi perdebatan,” tutur profesor riset di bidang astronomi-astrofisik LIPI ini.

Beberapa data menunjukkan adanya korelasi iklim dengan siklus Matahari. ”Ada pergeseran tekanan angin di daerah Pasifik yang terkait langsung dengan akivitas maksimum dan minimum Matahari. Sinar kosmik saat aktivitas Matahari minimum berpengaruh pada kondensasi awan,” tuturnya. (YUN/JON)

Editor: wsn

Sumber : Kompas Cetak


Orangutan Itu Membuat Sarang di Pohon Durian

Jumat, 4 Desember 2009 | 21:21 WIB

JAMBI, KOMPAS.com — Warga Desa Suban, Jambi, diimbau tidak mengganggu Win Gayo, orangutan sumatra yang masuk ke perkebunan warga sejak Rabu (3/12).

Manajer Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera Frankfurt Zoological Society (FZS) Julius Paolo Siregar di Jambi, Jumat (4/12), mengatakan bahwa orangutan jantan bernama Win Gayo telah membuat sarang di pohon durian warga Desa Suban, Kecamatan Batang Asam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Orangutan itu kini menjadi tontonan masyarakat.

Win Gayo merupakan orangutan sumatra yang dilepasliarkan oleh FZS di Sungai Amparing, Desa Lubuk Kambing, Kecamatan Ranah Mendalo, Tanjung Jabung Barat, pada Desember 2008.

Dari pengamatan terakhir, Win Gayo kerap berada di Dusun Muaro Danau, Desa Lubuk Kambing, sementara Desa Suban berada di seberang Sungai Pengabuhan.

Menurut Julius, karena Desa Suban hanya berada di seberang sungai, Win Gayo bisa masuk ke desa tersebut, apalagi kalau banyak sumber makanan seperti musim buah sekarang ini.

Berdasarkan pengalaman selama masa pemeliharaan, Win Gayo mempunyai sifat tidak berani mengganggu manusia. Namun jika merasa terancam, maka ada kemungkinan orangutan ini melakukan perlawanan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Julius mengimbau masyarakat agar tidak melalukan upaya-upaya yang dikhawatirkan dapat mengganggu keberadaan orangutan, sebelum Win Gayo digiring kembali ke habitatnya.

FZS membuka Open Orangutan Sanctuary (OOS) di Danau Alo, Desa Lubuk Kambing, awal 2009. Ada lima orangutan sumatra yang telah dilepasliarkan dengan tujuan membuka habitat baru. Diharapkan, hewan dilindungi ini mampu merestorasi hutan yang sudah rusak secara alami.

Kelima orangutan itu diberi nama Bim-Bim, Rencong, Waikiki, Roma, dan Win Gayo.

Sementara itu, Manajer OOS Padma Seputra Purba yang berada di lokasi menyatakan, kondisi Win Gayo cukup baik, tetapi sedikit menunjukkan kemarahan.

Kerumunan orang di bawah pohon membuat Win Gayo merasa terancam sehingga melempari warga dengan durian. Aparat Desa Suban juga berusaha memberi pengertian kepada warga untuk tidak menjadikan Win Gayo sebagai tontonan.

“Posisi Win Gayo sangat dekat dengan perkampungan dan jalan raya sehingga banyak sekali warga yang datang menonton. Hingga kini tidak ada gangguan dari warga. Namun, ada yang berusaha mendekati Win Gayo untuk memberi makan buah-buahan,” kata Padma.

Sejumlah staf FZS akan terus memantau Win Gayo dan berusaha mengembalikan orangutan ini ke dalam hutan. FZS juga akan mengganti kerugian selayaknya kepada masyarakat akibat aktivitas orangutan yang masuk ke perkampungan.

Editor: bnj

Sumber : ANT


Indonesia Pemberi Kontribusi Ekologi Bumi

Jumat, 11 Desember 2009 18:23 WIB |
Makassar (ANTARA News) – Indonesia merupakan salah satu negara yang memberikan kontribusi ekologi yang cukup bagi bumi dan masih lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

“Kami kaget karena ternyata pandangan para peserta terhadap kondisi lingkungan Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lainnya,” kata Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin, melalui siaran pers dari Kopenhagen, Denmark, kepada wartawan di Makassar, Sumatra Selatan, Jumat.

Ilham Arief menjadi salah seorang peserta KTT ke-15 Perubahan Iklim (COP) Konvensi Badan Dunia untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Kopenhagen.

Wali Kota bersama rombongan LSM Internasional Enlightening Indonesia mengatakan, pertemuan yang diikutinya membahas mengenai “Limits Go Growth” dan diskusi itu membicarakan tentang “Ecologycal Footprint” yang merupakan suatu alat ukur dan kesepakatan yang dilakukan oleh beberapa negara.

Mereka menginginkan adanya keseimbangan antara ecologi dengan konsumsi masyarakat untuk menjaga kehidupan mahluk hidup di muka bumi.

Pertemuan yang diikuti oleh rombongan Wali Kota Makassar terbagi dalam dua kegiatan yaitu Klimaforum yang diikuti oleh Wali Kota Makassar di DGI-BYEN yang lebih banyak mendiskusikan mengenai tindakan.

Sementara rombongan Delegasi RI (Delri) yang diikuti oleh Rachmat Witoelar berada di tempat berbeda yakni Bella Centre.

Kegiatan yang diikuti oleh Delri adalah pertemuan tingkat tinggi yang membahas tentang kesepakatan yang akan diambil oleh para pemimpin negara.

“Kami di Denmark terbagi dalam dua tim, ada yang mengikuti kegiatan teknis dan ada juga pertemuan tingkat tinggi yang membahas tentang kesepakatan yang akan diambil oleh para pemimpin negara,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi iklim yang ada di Indonesia sudah cukup parah, tetapi pada pertemuan Klimatologi yang diikutinya berkata lain dan berkesimpulan jika potensi alam yang dimiliki Indonesia, khususnya Makassar merupakan aset ekologi untuk umat manusia.

Di samping itu juga, Wali Kota mengaku jika kesimpulan itu menjadi tantangan, sekaligus peluang bagi daerah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa harus menciptakan kerusakan lingkungan.

“Kami pikir Makassar bisa menjadi pionir dan penggerak maupun inspirasi pada tingkat regional, maupun nasional, sehingga secara strategis dapat membantu Makassar Go Internasional dalam segala sektor yang digerakkan oleh kegiatan investasi hijau,” terangnya.

Kehadirannya di forum Internasional tersebut, lanjut Wali Kota, banyak memberikan inspirasi ke depan untuk lebih fokus terhadap isu hijau yang tentunya turut membantu mengangkat tingkat pertumbuhan ekonomi.

Sehingga dapat mensejahterakan masyarakat, sekaligus menciptakan Makassar sebagai “comfortable living room” yang tentunya akan menjadi sebuah simbol baru untuk kehidupan yang nyaman dan sejahtera bagi masyarakat dunia.
(*)

http://www.antaranews.com/berita/1260530597/indonesia-pemberi-kontribusi-ekologi-bumi


ASEAN Satukan Suara Hadapi Perubahan Iklim

102129pMinggu, 25 Oktober 2009 | 11:42 WIB

HUA HIN, KOMPAS.com – Kepala negara maupun kepala pemerintahan negara-negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) menyatukan suara terkait isu perubahan iklim. Dirjen ASEAN Departemen Luar Negeri Djauhari Oratmangun yang ditemui di sela-sela rangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-15 di Hua Hin, Thailand, Sabtu (24/10) malam mengatakan kesatuan sikap para pemimpin ASEAN ini telah dituangkan dalam “Pernyataan Bersama”.

Dalam pernyataan bersama tersebut, ASEAN mengimbau pada negara-negara Annex 1 untuk segera menurunkan dengan tajam emisi gas rumah kacanya.  Djauhari menuturkan bahwa dalam permasalahan perubahan iklim ini, negara-negara maju harus ikut dalam upaya menurunkan emisi karbon, demikian pula untuk negara-negara berkembang. Selain itu, ASEAN juga menyerukan pada negara-negara di kawasan untuk menjaga pantai dan lautnya dari kerusakan akibat efek negatif dari perubahan iklim.

Untuk menyukseskan Konferensi Iklim di Kopenhagen, November mendatang, negara-negara ASEAN juga telah berkomitmen lebih mempererat kerja sama antarnegara anggota dan negara mitra. Menurut Djauhari, menindaklanjuti pernyataan bersama ini, Menteri Lingkungan Hidup dari negara-negara anggota ASEAN untuk membahas masalah lingkungan. “Mereka akan bertemu pada Desember tahun ini di Singapura,” katanya.

Selain dibahas dalam pertemuan tingkat kepala negara atau pemerintahan negara-negara ASEAN, masalah perubahan iklim ini juga dibahas dalam pertemuan ASEAN dengan Republik Korea dalam KTT ASEAN ke-15. Dalam pertemuan dengan negara-negara ASEAN tersebut, pemerintah Korea Selatan menyatakan mengalokasikan dana sebesar 100 juta dollar AS untuk mendukung ASEAN menghadapi perubahan iklim. Dana tersebut juga akan digunakan untuk pengelolaan air bersih.

Sementara itu lembaga penggiat lingkungan Greenpeace Asia Tenggara meminta pimpinan ASEAN untuk lebih memperhatikan masalah perubahan iklim. Menurut Manajer Kampanye Greenpeace Asia Tenggara Tara Buakamsri, penduduk ASEAN telah merasakan akibat dari perubahan iklim.

Menurut dia, negara-negara di ASEAN harus berkomitmen untuk menghentikan penggundulan hutan dan melaksanakan pembangunan yang rendah karbon, serta melaksanakan kesepakatan dalam Konferensi Kopenhagen yang akan dilaksanakan di akhir tahun 2009 ini.
WAH

Editor: wah
Sumber : ANT


Dua Anak Harimau Sumatera Langka Lahir Selamat

Minggu, 25 Oktober 2009 | 20:51 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Kebun Binatang Medan, Minggu dini hari dikejutkan dengan lahirnya dua ekor anak Harimau Sumatra berkelamin jantan dan betina, di kebun binatang itu.

Drh Sucitrawan, salah seorang dokter yang merawat harimau Sumatra, tersebut mengatakan, kelahiran dua anak harimau Sumatra itu merupakan kelahiran pertama, selama kebun binatang Medan dipindahkan ke Jalan Bunga Rampe IV Simalingkar B, Medan.

“Sampai saat ini kondisi kedua ekor anak harimau Sumatra tersebut dalam keadaan normal dengan berat badan masing-maisng 1,1 kg. Kami juga terus mengawasi perkembangan kondisi keduanya,” katanya di Medan, Minggu (25/10).

Saat ini pihaknya terus melakukan beberapa langkah perawatan, baik terhadap induk maupun kedua anak harimau yang merupakan hewan dilindungi tersebut.

Sedangkan untuk asupan makanan, pihak manajemen Kebun Binatang Medan akan menambah porsi makanan dan vitamin kepada induk harimau agar sang induk dapat menyusui anaknya dengan lancar.

“Kelahiran kedua anak Harimau itu normal, saat ini kami belum memberi nama kepada kedua anak harimau itu, namun induk anak harimau yang berjenis kelamin laki-laki diberi nama Si Bagus dan betina Si Manis,” katanya.

Rencanya, Gubernur Sumatera Utara, Syamsul Arifin dan pj Walikota Medan, Rahudman Harahap diharapkan memberi nama kedua anak Harimau tersebut.

Perkembangan kesehatan anak Harimau Sumatra yang belum diberi nama itu, akan dipantau dua orang dokter hewan.

“Hingga tiga bulan ke depan, kami akan terus melakukan perawatan intensif kepada induk anak Harimau Sumatra yang didatangkan dari Kota Tanjung Balai, Sumut itu,” katanya.
BNJ

Editor: bnj
Sumber : ANT


Harimau Sumatera Tinggal 154 Ekor di Aceh

Sabtu, 24 Oktober 2009 | 21:24 WIB

BANDA ACEH, KOMPAS.com-Hasil survei yang dilakukan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Aceh, tercatat populasi harimau Sumatera (Phantera Tigris Sumaterae) di kawasan hutan Aceh tinggal 154 ekor.041327p

“Dari survei yang kami lakukan sejak 2007 hingga 2009, populasi harimau Sumatera tinggal 154 ekor,” kata kepala BKSDA Aceh Abubakar di Banda Aceh, Sabtu.

Ia mengatakan di seluruh hutan di Pulau Sumatera saat ini terdapat sekitar 480 ekor harimau, namun populasi terbanyak satwa itu hanya di hutan-hutan di Aceh terutama di kawasan Leuser dan Ulu Masen.

Survei yang dilakukan bersama kalangan LSM tersebut, membentuk sejumlah tim dengan mensurvei 234 kawasan.

Pada setiap kawasan seluas 17 kilometer persegi yang diperkirakan merupakan lintasan harimau tersebut, ditemukan jejak kaki binatang itu maupun ditemukan langsung hewan tersebut.

Menurut dia, populasi hewan yang dilindungi ini semakin menurun akibat berbagai hal di antaranya habitat yang terganggu sehingga makanan utamanya menghilang. Ia mencontohkan di Kabupaten Aceh Selatan, kebun masyarakat banyak yang kotor karena babi yang menjadi hama tanaman turun ke kebun.

“Karena babi yang merupakan salah satu makanan harimau sudah turun ke permukiman penduduk, maka si raja hutan itu juga turun ke kawasan yang berpenduduk,” katanya.

Menurut dia, survei yang dilakukan baru sebatas menghitung populasi harimau Sumatera, sedangkan berdasarkan jenis kelamin belum diketahui jumlahnya, karena membutuhkan waktu yang lama. “Memang cukup berat dan perlu waktu untuk melakukan survei terhadap keberadaan harimau ini,” katanya.

Dia mengatakan tim yang diturunkan juga banyak, karena medannya sulit. Ia mengatakan ke depan akan dilakukan survei untuk menghitung jumlah harimau berdasarkan jenis kelamin, angka kematian maupun kelahiran satwa tersebut.
ONO

Editor: ono
Sumber : ANTARA


Hah, Malaysia Mengklaim Bunga Raflesia Arnoldi?

1415052p

Minggu, 25 Oktober 2009 | 22:13 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com - Klaim Malaysia terhadap bunga Raflesia arnoldi membangkitkan semangat Kelompok Peduli Puspa Langka Desa Tebat Monok, Kabupaten Kepahiang untuk melestarikan habitat flora langka itu.

“Terus terang kami sakit hati mengetahui dari media bahwa Malaysia juga mengklaim bunga Raflesia,” kata Ketua Kelompok Peduli Puspa Langka Holidin, Minggu (25/10).

Padahal, semangat masyarakat sudah berkurang untuk menjaga setiap bunga yang mekar di kawasan Hutan Lindung dan Cagar Alam Taba Penanjung.

Dengan adanya klaim tersebut, anggota kelompok kembali bersemangat membersihkan kawasan dua bunga Raflesia yang mekar di perbatasan Kota Bengkulu-Kepahiang sejak dua hari terakhir.

“Ada dua yang mekar, posisinya 200 meter dari jalan raya. Sebenarnya kami tidak semangat membuka jalan karena medannya curam, tetapi mengingat klaim Malaysia atas Raflesia, semangat anggota kelompok jadi tinggi,” katanya.

Holidin mengatakan satu bunga sedang mekar sempurna dan diperkirakan masih mekar hingga empat hari ke depan.

Bunga yang mekar tersebut berada di kemiringan 65 derajat dengan diameter 80 cm, dan dapat dinikmati pengunjung hingga 12 hari ke depan sebelum membusuk.

Satu bunga lainnya masih mulai membuka kuncup dan diperkirakan mekar sempurna enam hari lagi. Selain dua bunga tersebut, kelompok ini juga menemukan dua calon bunga sebesar bola kaki, dan lima yang sebesar bola kasti.

Diperkirakan hingga satu bulan ke depan calon bunga itu akan berbunga secara bergantian. “Jadi, pengunjung punya banyak kesempatan untuk melihat bunga ini di habitatnya langsung,” katanya.

Selain tujuh calon bunga tersebut, Holidin yang saat ini sedang membersihkan lokasi bunga dan merintis jalan setapak bagi pengunjung mengatakan enam inang bunga Raflesia juga menunjukkan tanda-tanda calon bunga yang biasa disebut tombol.

Jumlah tombol, belum bisa dipastikan karena pihaknya belum menghitung. “Kelihatannya banyak calon bunga yang akan muncul karena ada enam inang yang kami temukan dengan banyak tombol, atau benjolan calon bunga,” katanya.

Holidin dan timnya telah membuat tanda bagi pengunjung dengan memasang papan di pinggir jalan raya, dan kelompok tersebut juga telah membuka jalan setapak untuk pengunjung yang berniat menikmati flora langka itu.
BNJ

Editor: bnj
Sumber : ANT


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.